Jumat, 05 Januari 2018

CSV PT PERTAMINA LUBRICANTS



Nama  : Ratih Astuti
NIM    : 165211020
Kelas   : 2A-ABS



Pengertian CSV

Creating Shared Value (CSV) adalah sebuah konsep dalam strategi bisnis yang menekankan pentingnya memasukkan masalah dan kebutuhan sosial dalam perancangan strategi perusahaan. CSV merupakan pengembangan dari konsep tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate social responsibility, CSR). Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Michael Porter dan Mark Kramer pada tahun 2006 dalam artikel Harvard Business Review. Artikel tersebut berisi pemahaman dan contoh relevan perusahaan yang telah mengembangkan hubungan mendalam antara strategi perusahaan dengan tanggung jawab sosial. Konsep ini kemudian dibahas lagi secara mendalam pada artikel "Creating Share Value" pada tahun 2011.

Contoh Pengaplikasian CSV Pada Perusahaan PT Pertamina Lubricants

PT Pertamina Lubricants (PTPL), anak perusahaan PT Pertamina (Persero) yang bergerak di sektor pelumas, dalam menjalankan program tanggung jawab sosial (CSR) telah mengubah pola pendekatan dari filantropi yang hanya fokus pada donasi dan voluntir menjadi pendekatan creating shared value (CSV). CSV adalah kemitraan strategis yang dapat menciptakan dampak dan berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan. Evolusi program CSR PTPL tersebut melalui program Enduro Student Program (ESP) untuk kemandirian ekonomi masyarakat.
"Enduro Student Program pada Agustus 2017 masuk batch 2, program ini sebenarnya telah dimulai pada 2016," ujar Corporate Secretary PT Pertamina Lubricants Fitri Erika dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (3/10/2017). Menurut Erika, ESP berfokus pada sektor pendidikan berupa peningkatan pendidikan bidang otomotif sepeda motor dan kewirausahaan. Tujuannya mencetak wirausaha tenaga muda produktif Indonesia di bidang otomotif khususnya perbengkelan.
Pada program ESP, peserta diberikan pelatihan teknik sepeda motor bersama Balai Latihan Kerja Industri (BLKI), praktik kerja dan mentorship oleh bengkel mitra binaan Pertamina Lubricants, pelatihan kewirausahaan, serta pendampingan usaha perbengkelan. Sasaran utama adalah siswa atau alumni Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). SMK dipilih karena merupakan jenjang pendidikan yang sangat erat kaitannya dengan industri otomotif dan teknologi. Segmen ini sesuai dengan kegiatan industri yang dijalankan oleh perusahan. "Dari program ESP batch I telah mencetak wirasuaha muda baru dengan merintis lima bengkel baru di Cilacap," tambah Erika lagi.
Pada batch pertama, peserta yang mengikuti program ESP sebanyak 18 orang ditambah tiga orang dari program sebelumnya. Kemudian pada batch 2, diikuti 20 peserta dari seluruh SMK yang berada di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.
Selain ESP, program tanggung jawab sosial lainnya yakni bengkel mitra binaan dan perajin drum bekas oli. Untuk bengkel mitra binaan, syarat utamanya adalah bengkel kecil dengan usia bisnis lebih dari lima tahun. Setelah melalui pemetaan didapatkan ada 7 bengkel. Bengkel-bengkel ini juga kemudian menjadi tempat bagi peserta ESP berkonsultasi terkait permasalah perbengkelan. Dampak dari program tangggung jawab sosial yang dilakukan oleh PTPL cukup signifikan. Harapan adanya sharing value benar terlaksana. Misalnya dari program ESP, keterampilan para siswa semkin bertambah, mereka mampu menjadi mekanik bengkel yang andal dan menjual produk pelumas Pertamina kemudian mereka memiliki bengkel sendiri.
"Satu sisi para peserta menjadi mandiri dengan memiliki usaha sendiri atau memiliki keterampilan di bidang perbengkelan. Di sisi lain, produk pelumas milik Pertamina (Enduro) laku terjual," katanya. Begitu juga dengan program bengkel mitra binaan yang dilakukan, produk pelumas Pertamina terus dipromosikan dan penjualannya pun meningkat. Sementara itu dari sisi UKM furnitur, mampu memanfaatkan limbah daru drum oli dan membawa manfaat ekonomi dan bagi Pertamina dari sisi branding ada furniture stylist dengan warna khas Pertamina.

Risna Resnawaty, pakar CSR dari Universitas Padjadjaran, menilai positif perubahan skema pendekatan CSR dari filantropi ke CSV apalagi bertujuan memberdayakan masyarakat. Program unggulan Pertamina Lubricants, yaitu Enduro Student Program adalah salah satu bentuk CSR yang bagus karena nilai social return on investment(SRoI) mencapai 4,77. "Itu lebih bagus, di atas 1 pun sudah bagus," ujar Risna. Menurut dia, kegiatan CSR wajib diberitakan berdasarkan tiga faktor. Pertama, mempromosikan tentang pemecahan masalah sosial. Kedua, advokasi keadilan sosial. Ketiga, keuntungan yang diperoleh dari program CSR tersebut tidak hanya sebatas perusahaan, tapi juga masyarakat dan pemerintah. "Agar program CSR terimplementasi dengan baik perlu sejumlah strategi seperti masuk dalam visi perusahaan, inovasi secara konsisten, SDM yang tangguh, serta kolaborasi dengan pemerintah dan LSM. Juga perlu memahai tren global, tren politik dan target SDG’s," ujarnya.

Hidayat Tantan, pengamat media dan CEO Visi Dunia Energi, mengatakan agar berita CSR perusahaan dapat tayang di media, aktivitas CSR harus menonjolkan sisi penerima manfaat CSR sehingga kisahnya menjadi inspirasi bagi pembaca. "Ada local hero yang diangkat lebih baik lagi. Selain itu, perlu diperbanyak media visit agar media tahu secara persis kondisi di lapangan," katanya.





Referensi :

http://busori.blogspot.co.id/2013/01/creating-shared-value-menciptakan.html
https://ekbis.sindonews.com/read/1245162/34/pertamina-lubricants-ubah-charity-ke-csv-1507046999

PENTINGNYA MEMPUNYAI SIFAT KEPEMIMPINAN BAGI SEORANG MANAJER KANTOR



PENTINGNYA MEMPUNYAI SIFAT KEPEMIMPINAN
BAGI SEORANG MANAJER KANTOR



Oleh :
Ratih Astuti
NIM 165211020
Program Studi D3 Administrasi Bisnis
Jurusan Administrasi Niaga
Politeknik Negeri Bandung
Email : ratih.astuti12@gmail.com



ABSTRAK

Kepemimpinan (leadership) adalah kemampuan atau keahlian yang dimiliki oleh seseorang untuk dapat mempengaruhi orang lain agar dapat bekerja sesuai dengan yang telah diperintahkan untuk mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Kepemimpinan memang menyangkut orang lain yaitu bawahan atau pengikut. Sebagai seorang manajer kantor penting sekali untuk mempunyai sifat kepemimpinan ini, karena menjadi seorang manajer kantor berarti menjadi orang yang bertanggungjawab terhadap kewajiban-kewajiban yang seharusnya ia selesaikan. Di dalam tulisan ini penulis menggunakan pendekatan studi pustaka, yakni dengan mencari berbagai sumber informasi mengenai kepemimpinan dan juga manajer kantor dan apa keterkaitannya. Karena sebenarnya keterkaitan antara kepemimpinan dengan seorang manajer kantor itu sangat erat kaitannya dan tidak dapat dipisahkan. Seorang manajer kantor pada dasarnya haruslah mempunyai jiwa kepemimpinan atau leadership. Di dalam tulisan ini penulis mengharapkan akan banyak pengetahuan atau wawasan yang dapat diambil tentang bagaimana menjadi seorang manajer kantor yang mempunyai integeritas dan juga berjiwa kepemimpinan.

Kata kunci : Kepemimpinan, manajer kantor




ABSTRACT


Leadership  is the ability or expertise possessed by a person to be able to influence others in order to work in accordance with what has been ordered to achieve the goals and objectives. Leadership is about others who are subordinates or followers. As an office manager it is important to have this leadership trait, being an office manager means being responsible for the obligations he or she should have completed. In this paper the authors use literature study approach, namely by looking for various sources of information about leadership and also office manager and what is the relationship. Because the actual relationship between leadership with an office manager is very closely related and inseparable. An office manager should basically have leadership or leadership. In this paper the authors expect a lot of knowledge or insight that can be taken about how to become an office manager who has integrity and also leadership spirited.

Keywords: Leadership, office manager





PENDAHULUAN

Manusia sebagai makhluk sosial tidak lain dan tidak bukan adalah pemimpin bagi dirinya sendiri, dan bukan tidak mungkin juga menjadi pemimpin bagi orang lain. Di dunia ini pada kenyataannya adalah benar bahwa seorang pemimpin itu dapat mempengaruhi kualitas kerja, kepuasan kerja dan prestasi di suatu organisasi atau perusahaan. Disamping itu, seorang pemimpin pun mempunyai peran yang sangat penting dalam mengorganisir serta membantu kelompok, organisasi ataupun masyarakat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Seorang pemimpin yang baik dan efektif tentunya mempunyai sifat-sifat tertentu misalnya pemimpin tersebut mempunyai keyakinan kepada dirinya sendiri, berkharisma dan selalu berpandangan ke depan untuk kemajuan suatu organisasi. Selain itu juga yang tidak kalah penting adalah seorang pemimpin harus punya “Pengaruh” untuk mempengaruhi orang-orang yang bekerja dengan dia agar bersedia melaksanakan tugas-tugasnya. Jika seorang pemimpin tidak mempunyai pengaruh untuk bawahannya itu percuma saja. Karena bagaimana pun juga kemampuan yang dimiliki oleh seorang pemimpin baik itu keterampilannya dalam memimpin adalah adalah faktor yang penting. Suatu organisasi tentunya membutuhkan keefektifan dari seorang pemimpin di dalam memberikan pengaruh kepada bawahan (Muchiri & Cooksey, 2011). Adapun kunci untuk keefektifan dari pengaruh dengan lebih efektif.


PEMBAHASAN

Pengertian kepemimpinan (leadership) adalah kemampuan atau keahlian yang dimiliki oleh seseorang untuk dapat mempengaruhi orang lain agar dapat bekerja sesuai dengan yang telah diperintahkan untuk mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Kepemimpinan memang menyangkut orang lain yaitu bawahan atau pengikut. Dengan adanya mereka dapat membantu menentukan kedudukan dari seorang pemimpin itu sendiri karena tanpa adanya mereka seluruh kualitas kepemimpinan seorang manajer it akan menjadi sia-sia saja. Selain itu kepemimpinan juga menyangkut pembagian kekuasaan Adapun maksud dari pembagian kekuasaan ini adalah, para pemimpin mempunyai wewenang untuk tmemberikan tugas kepada anggota kelompoknya dan anggota dari kelompok tersebut juga wajib untuk mengerjakan apa yang telah pemimpin instruksikan kepada dia. Selain dapat memberikan pengarahan kepada anggota dan bawahannya, yang tidak kalah penting seperti yang telah disebutkan diatas adalah pengaruh. Selain para pemimpin memberikan tugas-tugas kepada bawahannya tetapi juga dapat mempengaruhi bagaimana bawahannya itu dapat melaksanakan perintahnya.




Tipe Kepemimpinan

Ada beberapa tipe dalam kepemimpinan, diantaranya adalah :
1.      Kepemimpinan pribadi, yaitu kepemimpinan yang dilakukan secara pribadi oleh dirinya sendiri tanpa melibatkan pegawai atau bawahannya.
2.      Kepemimpinan non pribadi, yaitu kepemimpinan yang selalu melibatkan pegawai atau bawahannya dalam melakukan tindakan baik itu tugas ataupun pengawasan.
3.      Kepemimpinan otoriter, yaitu kepemimpinan yang hanya menerapkan prinsipnya sendiri. Tipe kepemimpinan ini biasanya cenderung pekerja keras, sungguh-sungguh, teliti dan juga tertib.
4.      Kepemimpinan demokratis, yaitu tipe pemimpin yang bisa menempatkan dirinya di tengah-tengah kelompoknya agar mereka dapat berusaha bersama-sama untuk menyelesaikan tanggung jawab mereka. Tipe kepemimpinan ini lebih mengikutsertakan anggota kelompoknya untuk ikut serta dalam kegiatan perencanaan, penyelenggaraan dan juga pengawasan.
5.      Kepemimpinan paternalistis, yaitu tipe kepemimpinan yang lebih memiliki sifat kebapakan dan cenderung lebih memiliki sifat melindungi dan memberikan arahan kepada anggotanya layaknya seorang bapak.
6.      Kepemimpinan laissez faire (bebas apa maunya), yaitu tipe kepemimpinan yang cenderung lebih menyerahkan tugas-tugasnya kepada bawahannya, ia hanya akan menerima laporan dari bawahannya saja.



Sifat Kepemimpinan

Menurut Dr. Roeslan Abdulgani seorang pemimpin harus mempunyai sifat-sifat berikut ini :
1.      Kelebihan ratio, artinya seorang pemimpin harus lebih mengetahui apa tujuan dan juga asas dari suatu organisasi atau perusahaan, lebih mempunyai pengetahuan yang leih luas tentang bagimana cara-cara menjalankan suatu organisasi dengan benar dan juga dapat meyakinkan orang-orang yang dipimpinnya.
2.      Kelebihan dalam bidang rohaniah, artinya sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin harus dapat memancarkan keluhuran budi dan mempunyai sifat atau watak yang sederhana.
3.      Kelebihan dalam bidang lahiriah dan jasmaniah, artinya seorang pemimpin harus mempunyai kekuatan yang lebih dalam rohani dan jasmaninya agar dapat memberikan contoh kepada para anggotanya untuk lebih semangat dan bekerja keras lagi dalam menyelesaikan tugas-tugasnya.
4.      Pengetahuan mengenai hubungan kemanusiaan, artinya seorang pemimpin harus mampu menjalin hubungan atau berinteraksi dengan sesama, jangan hanya bekerja sendiri saja.

Pendekatan-Pendekatan Studi Kepemimpinan

Banyak penelitian-penelitian dan teori-teori kepemimpinan yang juga dapat diklasifikasikan sebagai suatu pendekatan kesifatan, perilaku dan situasional dalam kepemimpinan.
1.      Dalam pendekatan pertama ini memandang suatu kepemimpinan itu sebagai suatu sifat-sifat yang tampak.
2.      Pendekatan kedua lebih mengarah kepada perilaku-perilaku kepribadian yang mengarah kepada kepemimpinan yang efektif.
3.      Pendekatan ketiga adalah pandangan situasional tentang kepemimpinan.
Dapat kita lihat dari pendekatan satu dan dua diatas mempunyai anggapan bahwa seorang individu yang mempunyai suatu sifat-sifat tertentu atau bahkan memperagakan perilaku-perilaku tertentu nantinya akan muncul sebagai seorang pemimpin di suatu kelompok apapun dan di mana pun dia berada. Sedangkan untuk pemikiran dan penelitian sekarang ini mendasar kepada pendekatan ketiga, yang mana kondisi yang menentukan efektifitas kepemimpinan. Pandangan dari pendektan ketiga ini pun telah mnghasilkan pendekatan “contingency” yang mana pada kepemimpinan bermaksud untuk menetapkan faktor-faktor situasional intuk menentukan seberapa besar efektifitas gaya kepemimpinan tertentu.

Adapun sekelompok orang yang mempunyai pendapat bahwa seorang pemimpin memiliki ciri atau sifat tertentu yang menyebabkan mereka dapat memimpin bawahannya. Dilakukanlah penelitian tentang sifat kepemmpinan oleh para psikolog dan peneliti lainnya. Penelitian-penelitian ini sebagian besar dilakukan untuk bahan perbandingan antara sifat-sifat orang yang memang benar-benar menjadi pemimpin dengan orang yang tidak menjadi pemimpin atau hanya sekedar menjadi pengikut saja. Juga untuk mengidentifikasi sifat-sifat yang dimiliki oleh seorang pemimpin yang efektif. Seorang pemimpin yang memang benar-benar pemimpin cenderung mempunyai kecerdasan yang tinggi, rasa percaya diri yang tinggi dan ramah tamah. Sehingga tidak heran jika banyak yang menyebutkan pemimpin itu dilahirkan bukan dibuat. Karena memang benar seorang pemimpin yang mempunyai sifat-sifat tertentu sudah ia bawa sejak lahir tanpa harus dibuat-buat seakan-akan dia adalah pemimpin yang memang efektif.
Menurut seorang peneliti bernama Edwin Ghiselli ia telah menunjukan bahwa sifat-sifat yang dimiliki oleh seorang pemimpin yang efektif antara lain :
1.      Bagaimana kemampuannya dalam berkedudukan sebagai pengawas dan pelaksana fungsi dasar manajemen.
2.      Prestasi dalam pekerjaan yang mencakup pencarian tanggungjawab dan keinginannya untuk sukses.
3.      Suatu kecerdasan meliputi pemikiran yang kreatif, dan kebijakan.
4.      Selanjutnya adalah ketegasan yang dimiliki, karena seorang pemimpin harus mampu membuat keputusan-keputusan juga memecahkan masalah-masalah yang ada dengan tepat.
5.      Lalu ada kepercayaan diri yang tinggi sebagai kemampuannya untuk menghadapi berbagai rintangan.
6.      Dan yang terakhir adalah inisiatif, seorang pemimpin harus mempunyai sifat inisiatif dan tidak menunggu perintah dari siapa pun dan harus menemukan cara-caraatau inovasi baru.

Fungsi-Fungsi Kepemimpinan

Agar di dalam suatu kelompok tersebut dapat berjalan efektif sebagaimana mestinya, hal ini tidak lepas dari bagaimana seorang pemimpin di kelompok tersebut dapat mengkoordinir kelompoknya. Disinilah peran atau fungsi dari seorang pemimpin dibutuhkan.
1.      Fungsi instruksi
Disini seorang pemimpin sebagai komunikator yang menginstruksikan tentang apa dan bagaimana bawahannya melakukan tudas yang ia berikan.
2.      Fungsi Konsultasi
Selain memerintahkan bawahannya, seorang pemimpin juga harus mau berkonsultasi dengan orang-orang yang memang memiliki informasi yang ia butuhkan, dengan kata lain seorang pemimpin jangan sungkan untuk menerima saran dan masukan dari bawahannya.
3.      Fungsi Partisipasi
Di dalam fungsi ini pemimpin harus berusaha untuk membuat anggota atau bawahannya ikut berperan aktif dan berpartisipasi baik dalam keikutsertaan dan pengambilan keputusan. Akan tetapi partisipasi disini tidak bebas melakukan semuanya melainkan tetap dalam kendali dan terarah.
4.      Fungsi Delegasi
Seorang pemimpin jika sudah memberikan delegasi kepada bawahannya berarti pemimpin tersebut telah memberikan kepercayaan dan pelimpahan wewenang kepada orang yang bersangkutan.
5.      Fungsi Pengendalian
Kepemimpinan dapat dikatakan efektif dan sukses jika seorang pemimpin mampu mengkoordinasikan anggotanya dan mengatur aktivitas anggotanya supaya pekerjaan yang dilakukannya itu berjalan sesuai dengan apa yang telah ditetapkan.
Selain fungsi-fungsi diatas, seorang pemimpin juga mempunyai fungsi sebagai berikut :
·         Menciptakan suasna persaudaraan, dan kerja sama diantara anggotanya.
·         Ikut serta dalam membantu kelompoknya untuk mengorganisir dirinya sendiri dan memberikan bantuan kepada kelompoknya untuk menetapkan tujuan yang ingin mereka capai.
·         Selalu bertanggungjawab dalam pengambilan keputusan
·         Pemimpin juga bertanggungjawab terhadap eksistensi perusahaan.
Fungsi-fungsi diatas merupakan fungsi dari seorang pemimpin yang efektif. Pemimpin di suatu perusahaan atau yang biasa kita sebut Manajer pun sama, ia harus mampu menginstruksikan, mengawasi, mengkoordinir bawahannya agar setiap pekerjaan yang dilakukan tidak menyimpang dan sesuai dengan apa yang telah ditetapkan sebelumnya. Seorang manajer pasti mempunyai sifat-sifat yang dimiliki oleh seorang pemimpin pada umumnya, karena untuk menjadi seorang manajer itu sendiri pun bukanlah hal yang mudah disamping tanggung jawabnya yang besar, manajer pun harus mampu mengontrol dirinya sendiri sebelum dia bisa mengatur orang lain.

Tugas-Tugas Pokok Kepemimpinan

Tugas-tugas dari seorang pemimpin tidak lepas dari fungsi-fungsinya dalam menjalankan tugasnya seperti yang telah disebutkan diatas. Tugas seorang pemimpin dapat terlaksana jika pemimpin tersebut dapat bekerjasama yang baik dengan para anggotanya. Karena pada dasarnya tugas-tugas tersebut tidak dapat dicapai jika hanya dilakukan seorang diri oleh pemimpin tersebut.
Adapun tugas-tugas dari seorang pemimpin antara lain : mengambil suatu keputusan dan menetapkannya beserta sasaran juga menyusun kebijaksanaan, mengorganisasikan para pekerjanya serta menempatkannya, mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan yang dilakukan baik itu dari bawahan dan atasan ataupun dari bagian atau unit dengan unit lainnya, mengontrol dan mengawasi pelaksanaan pekerjaan. Selain itu seorang pemimpin juga harus bisa mendorong dan memotivasi bawahannyauntuk dapat bekerja lebih giat dan lebih tekun lagi, membina anggotanya agar mempunyai rasa tanggungjawab terhadap tugasnya agar tugas yang diberikan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien, menciptakan suasana kerja yang harmonis, menjadi contoh yang baik bagi anggotanya dan menjadi penggerak serta sumber kreatifitas, dan yang terakhir adalah menjadi perwakilan dalam menjalin hubungan yang baik dengan pihak luar. Karena di suatu perusahaan pasti ada yang namanya kerja sama dengan perusahaan-perusahaan lain, oleh karena itu sebagia seorang pemimpin haruslah menjadi wajah yang baik dan dipandang baik oleh perusahaan lainnya itu mencerminkan bagaimana kondisi dari perusahaan pemimpin itu sendiri.

Power (Kekuasaan) Seorang Pemimpin

Untuk dapat mempengaruhi anggotanya seorang pemimpin harus mempunyai kekuatan agar dapat mengarahkan dan mempengaruhi anggotanya supaya bersedia melaksanakan tugas yang diberikan.
John Frech dan Bertram Raven berpendapat bahwa seorang pemimpin itu dapat mempengaruhi anggotanya berdasarkan :
1.      Coercive Power (kekuatan berdasarkan paksaan), kekuatan ini pada dasarnya didasari oleh rasa takut, artinya bawahan akan merasa takut dikenakan hukuman jika ia tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh atasan.
2.      Reward Power (kekuatan untuk memberikan penghargaan), kekuatan ini dilakukan oleh pemimpin yang dapat memberikan penghargaan kepada anggotanya jika dia melakukan tugas-tugas yang telah diberikan sesuai dengan keinginan dari pemimpin itu sendiri.
·         Legitimate Power (kekuatan yang sah) kekuatan ini muncul dari sisi seorang supervisor.
·         Expert Power (kekuatan karena keahlian) kekuatan ini muncul karena seseorang memiliki keahlian tertentu, pengetahuan dan keterampilan.
·         Reference Power (kekuatan referen) kekuatan ini muncul atas dasar identifikasi seorang bawahan dengan seorang pemimpin yang sangat ia hormati.
Menjadi seorang pemimpin haruslah mempunyai kemampuan yang kuat untuk mendorong dan membangkitkan kekuatan emosional dan rasional anggotanya. Dibawah ini merupakan unsur-unsur dalam kepemimpinan antara lain :
1.      Leader yaitu orang yang memimpin di suatu organisasi atau perusahaan.
2.      Pengikut atau anggota adalah orang-orang yang ada di dalam organisasi atau perusahaan yang dipimpin oleh leader diatas.
3.      Organisasi yakni wadah atau tempat untuk menampung orang-orang yang akan melaksankan suatu tujuan.
4.      Objective adalah tujuan yang akan dicapai dan ditetapkan.
5.      Lingkungan sekitar yaitu kehidupan sosial disuatu perusahaan atau organisasi tersebut.

Teori Leadership

·         The great man theory (teori sifat), teori ini menerangkan bahwa seseorang bisa menjadi seorang pemimpin hanya karena mereka dilahirkan untuk menjadi seorang pemimpin, baik ia mempunyai sifat atau tidak mempunyai sifat kepemimpinan.
·         Behavirol theory (teori perilaku)
a.       Dua orang akademisi yakni Tannenbaum dan Warren H Schmidt menjelaskan faktor apa saja yang mempengaruhi gaya kepemimpinan dari seorang pemimpin. Gaya kepemimpinan tersebut dijelaskan dengan dua fokus yakni fokus terhadap atasan dan fokus terhadap bawahan. Menurut mereka gaya kepemimpinan dapat ditentukan oleh faktor-faktor antara lain faktor manajer,  faktor karyawan dan yang terakhir adalah faktor situasi.
b.      Study Ohio State University menyimpulkan bahwa terdapat dua kategori perilaku seorang pemimpin yakni :
1.      Consideration, adalah keadaan dimana seorang pemimpin peduli terhadap bawahan dan mendukung penuh bawahan tersebut. Pemimpin yang consideration cenderung dekat dengan bawahan dan menjalin hubugan yang mencerminkan rasa saling percaya satu sama lain juga saling menghormati.
2.      Initiating Structur, adalah keadaan dimana seorang pemimpin membuat sendiri struktur pekerjaannya dan juga struktur pekerjaan bawahannya, pemimpin dengan gaya ini cenderung melakukan pekerjaannya secara kelompok dan melalui perencanaan, pembagian tugas, penjadwalan serta menetapkan deadline.
c.       Studi The University of Michigan menyimpulkan bahwa seorang pemimpin atau manajer dapat dibedakan atas dua dimensi perilaku pemimpin, yakni :
1.      Relationship Oriented, adalah suatu perilaku yang mencerminkan sikap bersahabat dengan bawahan, mau mengakui prestasi-prestasi bawahan dan juga memperhatikan kebutuhan apa saja yang dibutuhkan karyawan demi kesejahteraan karyawannya.
2.      Task Oriented, adalah perilaku seorang pemimpin yang selalu menetapkan standar kerja yang tinggi, harus menggunakan metode kerja dengan tepat dan mengawasi bawahannya dengan ketat.
d.      Managerial Grid, dapat mendorong seorang pemimpin agar mempunyai dua kualitas kepemimpinan dalam sekaligus yakni berorientasi pada tugas/produksi dan berorientasi pada hubungan/orang.

·         Contigency Theory (teori situasi), teori ini berpendapat bahwa tidak ada satu tipe pun kepemimpinan yang efektif yang dapat diterapkan disegala situasi.
a.       Model Kepemimpinan Hersey, di dalam teori ini mengembangkan bahwa kepemimpinan bisa dikatakan efektif jika kepemimpinan tergantung dari kesiapan bawahannya. Adapun kesiapan-kesiapannya antara lain adanya kemauan untu mencapai prestasi setinggi-tingginya, kemampuan menerima tanggung jawab yang diberikan, kemampuan dalam mengerjakan tugas dan juga pengalaman yang dimiliki oleh bawahan tersebut. Hal-hal tersebut dapat mempengaruhi efektivitas kepemimpinan. Di dalam teori ini seorang pemimpin atau manajer harus tetap konstan dan mengevaluasi bagaimana kondisi karyawannya. Jika kondisi karyawannya sudah diketahui maka pemimpin tersebut dapat menyesuaikan gaya kepemimpinannya seperti apa agar sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan saat itu. Dengan demikian kepemimpinan ini akan berjalan secara efektif.
b.      Model Fiedler, di dalam teori ini dijelaskan bahwa seseorang menajadi seorang pemimpin itu tidak hanya karena karakteristik individunya saja melainkan juga karena beberapa variable situasi dan interaksi antara pemimpin dengan bawahan. Fiedler pun menjelaskan tiga dimensi yang dapat menjelaskan bagaimana situasi kepemimpinan yang efektif, antara lain :
1.      Power Position (Kekuasaan Position), dimensi ini menyebutkan bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh seorang pemimpin dapat membuat bawahan mengikuti apa kemauan dari seorang atasan. Pemimpin yang mempunyai jabatan, kekuasaan serta posisi yang jelas dapat membuat bawahannya menjadi patuh kepada atasan.
2.      Task Structure (Struktur pekerjaan), dimensi ini menyebutkan pekerjaan dapat dirinci atau dijelaskan serta membuat bawahan bertanggung jawab untuk melaksanakan pekerjaannya. Asalkan struktur pekerjaannya jelas maka pekerjaan tersebut dapat dilakukan dengan mudah, bawahan pun dapat diberikan tanggung jawab pelaksanaan pekerjaannya dengan lebih baik.
3.      Leader Member Relation (Hubungan antara pimpinan dan bawahan) hubungan antara pimpinan dan bawahan dapat terjalin dengan baik jika adanya rasa kepercayaan, rasa hormat dan loyalitas yang tinggi.
c.       Teori Jalur Tujuan (Path Goal Theory), teori ini menyebutkan bahwa fungsi yang utama seorang pemimpin adalah membuat suatu tujuan bersama dengan bawahannya, juga membantu mereka menemukan jalan yang tepat untuk mencapai tujua tersebut, selain itu untuk membantu mengatasi hambatan-hambatan yang timbul.
d.      Yetton dan Vroom Jago, pada teori ini terdapat kritikan untuk teori path goal karena di dalam teori path goal tersebut gagal memperhitungkan situasi keterlibatan-keterlibatan bawahan yang diperlukan.
·         Teori-Teori Kepemimpinan Kontemporer, teori kepemimpinan berkembang menuju berbagai arah, dan beberapa perkembangannya adalah :
1.      Kepemimpinan Transformasional atau Karismatik merupakan teori yang dikembangkan oleh Bernard M Bass. Dalam teori ini ia membedakan kepemimpinan transaksional dengan kepemimpinan transormasional dimana kepemimpinan transaksional yaitu menentukan apa saja yang harus dikerjakan oleh karyawan agar mereka dapat mencapai tujuan yang telah mereka tetapkan sendiri dan membantu mendorong karyawan agar mendapatkan rasa percaya diri dalam mengerjakan tugasnya. Disamping itu, pimpinan transformational dapat memotivasi bawahan agar dapat mengerjakan lebih dari yang diharapkan oleh pimpinan.
2.      Teori Kepemimpinan Psikoanalisa, teori ini menjelaskan bahwa perilaku manusia itu sangat kompleks sehingga kita tidak dapat menilai dan menjadikan penampilan dari luar itu sebagai pegangan. Perlu adanya analisa kembali mengenai teori-teori alam tentang manusia sebagai dasar untuk memahami perilaku manusia itu sendiri.
3.      Teori Kepemimpinan Romantis, teori ini menyebutkan bahwa pemimpin itu ada dan diperlukan dalam rangka mencapai kebutuhannya. Jika seorang pimpinan sudah tidak lagi mendapatkan kepercayaan dari bawahannya maka efektifitas kepemimpinan akan hilang. Terutama jika bawahan sudah dapat mengorganisasikannya sendiri maka pemimpin sudah tidak diperlukan lagi.

Manajer Kantor

Manajer yaitu seseorang yang harus merencanakan, mengorganisir, mengawasi dan menggerakan semua kegiatan yang dilakukan di suatu kantor, dengan kata lain, ia bertanggungjawab mengelola seluruh kegiatan kantor.

Tugas-tugas manajer kantor

1.      Seorang manajer kantor bertugas untuk membuat perencanaan, melakukan pengorganisasian dan pengawasan serta mengambil sebuah keputusan.
2.      Seorang manajer kantor harus memotivasi para karyawannya agar dapat bekerja dengan semangat dan dengan rasa tanggung jawab yang tinggi.
3.      Harus dapat memperbaiki fungsi fundamental dengan baik.
4.      Dapat membina karyawannya untuk bekerja sesuai dengan yang diharapkan yaitu secara efektif dan efisien.
5.      Seorang manajer harus dapat mewakili juga membina hubungan yang baik dengan pihak ekstern dari perusahaan,
6.      Seorang manajer selain membina karyawannya juga harus dapat menciptakan suasana atau kondisi yang dapat menghasilkan kepuasan bekerjan dari karyawannya.




 













Karakteristik Manajer Kantor

Seorang manajer kantor harus mempunyai karakteristik diantaranya :
1.      Fleksibel
2.      Dapat mengenali bagaimana rencana perusahaan dengan baik
3.      Mempuyai keinginan untuk mendelegasikan wewenangnya.
4.      Selalu menghargai kemampuan yang dimiliki setiap orang.
5.      Dapat memahami perilaku karyawannya.
6.      Dapat melakukan komunikasi dengan baik.

Dari karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang manajer kantor diatas, dapat kita ketahui bahwa untuk menjadi seorang manajer kantor tidaklah mudah, dia harus mempunyai beberapa kriteria-kriteria yang memang pada umumnya terdapat pada seorang manajer kantor. Selain itu seorang manajer kantor harus mempunyai technical skill yaitu keahlian yang dimiliki dalam bidang teknis yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang dilakukan oleh suatu organisasi atau perusahaan, kedua adalah interpersonal skill yaitu dia harus memiliki kemampuan untuk memahami, memotivasi dan juga berkomunikasi dengan para anggotanya, dan yang ketiga adalah conceptual skill yaitu, seorang manajer harus mempunyai konsep mengenai bagaimana suatu organisasi tersebut dapat berjalan sesuai dengan rencana dan bagaimana mengatur segala kegiatan yang akan dilakukan di suatu organisasi atau perusahaan tersebut,diagnostic skill yaitu kemampuan yang dimiliki oleh seorang manajer kantor untuk dapat memvisualisasikan apa yang paling benar untuk situasi tertentu, lalu ada communication skill yaitu kemampuan berkomunikasi secara efektif kepada orang lain baik itu sebagai pengirim pesan maupun penerrima pesan, selanjutnya ada decision-making skill yaitu keahlian untuk mengenali suatu masalah yang kemudian mendefinisikan masalah tersebut dan memecahkannya dengan menentukan satu tindakan yang harus dilakukan, dan yang terakhir adalah time management skill yaitu kemampuan yang dimiliki untuk mengatur waktu secara efektif dan efisien terutama waktu bekerja. Dari skill yang harus dipunyai itu memang terlihat jelas bahwa untuk menjadi seorang manajer kantor harus mempunyai kemampuan yang lebih dibandingkan dengan yang lainnya, karena tanggung jawabnya yang besar.


Tingkatan Manajemen

Ada beberapa tingkatan dari seorang manajer kantor.
1.      Manajemen puncak, yakni sebutan untuk Direktur, Wakil Direktur dan yang lainnya.
2.      Manajemen menengah, yaitu manajer-manajer seperti Kepala Departemen, Manajer Cabang dan yang lainnya.
3.      Manajemen lini/pertama, yaitu meliputi penyelia, mandor dan yang lainnya.
4.      Karyawan operasional/non managerial, meliputi tenaga operasional, tenaga penjualan dan yang lainnya.


 













Sedangkan menurut R Katz skill yang harus dimiliki oleh seorang manajer kantor ada tiga, antara lain conceptual skill, human relation skill dan technical skill dimana ketiga skill tersebut mempunyai porsinya masing-masing. Untuk manajer tingkat bawah kemampuan dalam bidang teknis sangatlah diperlukan dan ukurannya lebih banyak daripada kemampuan dalam hubungan dengan anggota lainnya apalagi kemampuan dalam mengonsep. Sedangkan untuk manajemen tingkat menengah, human relation skill lah yang harus banyak dimiliki daripada conceptual dan juga technical skill. Dan untuk manajemen tingkat atas, kemampuan dalam mengonseplah yang harus banyak dimiliki karena semakin atas tingkatan manajemennya maka kemampuan atau skill dalam mengonsepnya pun harus semakin besar.



KESIMPULAN

Jadi, dari paparan diatas jika kita lihat antara pemimpin dan manajer kantor itu memanglah tidak sama, akan tetapi  sifat-sifat dan gaya kepemimpinan seperti yang telah dipaparkan diatas dapat dijadikan sebagai acuan atau pedoman jika kita menjadi seorang manajer kantor. Karena pada dasarnya seorang manajer kantor itu berarti selain dia bisa memimpin dirinya sendiri dia juga harus bisa memimpin orang lain terutama parapekerjanya yang akan melaksanankan tanggung jawab bersama-sama. Seorang manajer kantor harus mempunyai jiwa leadership pada dirinya karena seperti yang telah kita tahu jika kita menjadi seorang pemimpin kita harus mempunyai pengaruh yang kuat terhadap anggota ataupun bawahan kita, karena jika kita tidak mempunyai pengaruh yang kuat mau seperti apapun kita memimpin tetap saja tidak akan dihargai oleh bawahan atau anggota kita. Fungsi-fungsi dari seorang pemimpin pun seperti yang telah dijelaskan diatas dapat kita jadikan bahan atau acuan jika kita menjadi seorang manajer kantor. Seperti fungsi instruksi, fungsi konsultasi, fungsi partisipasi, fungsi delegasi dan yang lainnya. Di dalam melakukan sebuah pekerjaan kita tidak mungkin akan mengerjakannya hanya sendirian saja, kita harus mau bekerja sama dengan bawahan atau anggota kita, oleh karena itu ada yang namanya fungsi delegasi yang mana kita dapat mendelegasikan wewenang atau tugas kita kepada bawahan kita dengan tetap mengawasinya, karena pada dasarnya seorang manajer kantor itu tidak hanya bisa memberikan instruksi atau perintah saja kepada bawahannya tetapi dia juga harus bisa memberikan contoh yang baik bagaimana seharusnya ia bertindak dan juga melakukan pengawasan dan pengontrolan kepada karyawannya agar kinerja karyawannya tersebut dapat dijadikan  penilaian untuk bahan evaluasi yang selanjutnya. Semua orang memang bisa menjadi seorang pemimpin tapi tidak semua orang bisa menjadi seorang manajer kantor, selain harus mempunyai kemampuan memimpin, seorang manajer kantor pun harus pengetahuan yang lebih baik itu tentang pekerjaannya ataupun yang lainnya. Skill yang dimiliki oleh seorang  manajer kantor pun harus diatas rata-rata para karyawannya. Maka tidak heran jika untuk menjadi seorang manajer kita harus melewati tahap demi tahap, tidak mungkin pada saat bekerja kita langsung menjadi seorang manajer kantor, pastinya kita memulainya dari awal yang kemudian akan meningkat-meningkat dan terus meningkat sampai akhirnya menjadi seorang manajer.


Daftar Pustaka


Altier, William J. 1999. The Thinking Manager's Toolbox. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1999. ISBN 979-421-965-7.

Analisis Gaya Kepemimpinan Manajer dan Supervisor Berdasarkan Presepsi Karyawan PT Coast Rejo Indonesia. Rahmawati, Sri. 2010. 2, 2010, Vol. I.

Analisis Gaya Kepemimpinan Pada PT Sinar Sarana Sukses. Hartanto, Ardian. 2016. 2, Surabaya : s.n., 2016, Vol. 4.

Baldoni, John. 2009. Lead by Example. New York : AMACOM, 2009. ISBN-13: 978-0-8144-1294-7.

Barret, Deborah J. 2008. Leadership Communication. New York : Andy Winston, 2008. ISBN-13:978-0-07-340314-4.

Dubrin, Andrew J. 2002. The Complete Ideal's Guides to Leadership. Jakarta : Prenada Media Group, 2002. ISBN 979-3464-21-6.

Hubungan Kepemimpinan Transformasional dan Motivasi Kerja. Nurhayati, Hj. Tati. 2012. 2, 2012, Vol. I.

Karakteristik Kepemimpinan Dalam Prespektif Manajemen Dakwah. Rakhmawati, Iatina. 2016. 02, Kudus : s.n., 2016, Vol. 1.

Kepemimpinan dan Fungsi Integerasi. Paptono, Sri. 2016. 01, 2016, Vol. 01. ISBN/ISSN.

Manajer Kantor dan Supervisor: Tugas dan Persyaratannya. Santosa, Jevi Jamilatul Fahmi. 2015. Bandung : s.n., 2015.

Pengaruh Gaya Kepemimpinan Terhadap Kinerja Pegawai Pada SBU Pos Prima Direktorat Operasi PT POS INDONESIA.  S, Tintin. 2010. 2, Bandung : s.n., 2010, Vol. 9

PENGARUH KOMITMEN ORGANISASI DAN GAYA KEPEMIMPINAN TERHADAP HUBUNGAN ANTARA PARTISIPASI ANGGARAN DAN KINERJA MANAJERIAL (Studi Empiris pada Kantor Cabang Perbankan Indonesia di Jakarta). Sumarno, J. 2005. 2, Jakarta : s.n., 2005, Vol. 14.
 
Peran Manajer Dalam Organisasi. Tugiman, Hiro. 2009. 2, 2009, Vol. 9.

Pierce, Jon L. 2006. Leaders & The Leadership Process. America : Mc Graw Hill, 2006.

Sholehuddin, M.Pd. 2008. Kepemimpinan Pemuda Dalam Berbagai Prespektif. Jakarta : PT Intimedia Ciptanusantara, 2008. ISBN 978-979-3432-76-2.

Strategi Kepemimpinan Dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai di Kementrian Agama Kota Malang. Al-Barqy, Abdul Aziz. 2015. Malang : s.n., 2015.

Swift, Phill Harkins and Phil. 2009. In Search Of Leadership. United States of America : Mc Graw Hill, 2009. ISBN 978-0-07-16029502.

Tipologi dan Karakter Ideal Kepemimpinan Dunia. Rasim, Ahmad. 2014. 1, Banten : s.n., 2014, Vol. 1.

Whitney, Diana. 2010. Appreciative Leadership. United States of America : Mc Graw Hill, 2010. ISBN 978-0-07-171406-8.

Yukl, Gary. 1998. Kepemimpinan Dalam Organisasi. s.l. : Victory Jaya Abadi, 1998. ISBN 979-8901-60-6.
.